/
Headlines News :
Home » » Spurs Kalah Gara-Gara Salah Taktik

Spurs Kalah Gara-Gara Salah Taktik

Written By Free Software on 31/03/14 | 17.30

Tim Sherwood datang ke Anfield dengan pernyataan keras. Bahwa musim Liverpool akan segera berakhir jika mereka tidak mampu menahan tekanan ekspektasi dari perebutan gelar juara yang semakin ketat.

Semalam (30/3), keraguan itu bisa dimentahkan oleh Luis Suarez dkk. Melawan Tottenham Hotspur di Stadion Anfield, Liverpool sukses menggasak tamunya empat gol tanpa balas. Ya, sebagaimana diucapkan oleh Brendan Rodgers pada wawancara pasca-pertandingan, Liverpool seolah tak merasakan tekanan itu dan justru bermain dengan penuh percaya diri.

Tak heran sejak peluit dibunyikan Liverpool langsung menunjukkan permainan yang agresif dengan pressing yang memaksa Spurs untuk melakukan kesalahan dan pelanggaran. Bahkan, dalam pertandingan ini Spurs sampai empat kali “memberikan” tendangan bebas di luar kotak penalti, yang salah satunya berujung gol dari tendangan bebas Jordan Henderson.

Tapi, bukan hanya itu saja yang jadi kelemahan Spurs dan Sherwood semalam.

Kesalahan Line Up Tim Sherwood?

Kedua pelatih datang dengan starting line-up yang tak biasa. Rodgers sedikit mengambil resiko dengan membangkucadangkan Joe Allen, dan memilih formasi yang lebih menyerang. Ia memainkan Phillipe Coutinho, Raheem Sterling, Luis Suarez, dan Daniel Sturridge secara bersamaan, seperti saat Liverpool ditahan imbang Aston Villa 2-2.

Tapi keputusannya itu ternyata tepat karena Liverpool mampu memainkan taktiknya dengan sempurna. Steven Gerrard yang ditempatkan untuk melindungi back four sendirian pun tak butuh banyak bekerja karena Liverpool praktis menguasai pertandingan dari menit pertama.

Sementara itu, dengan memasukkan Coutinho ketimbang Allen, Rodgers sendiri ingin memperkuat opsi serangan dari sayap. Caranya adalah dengan mendorong Henderson berkombinasi dengan Johnson dan Sturridge di sayap kanan untuk menyerang Danny Rose.

Line-up lebih menyerang ini juga yang dipilih oleh Sherwood. Ia meninggalkan Sandro dan Moussa Dembele di bangku cadangan, dan memainkan Nabil Bentaleb dan Gylfi Sigurdsson sebagai poros ganda dalam formasi 4-2-3-1. Mengingat kemampuan Sigurdsson dalam melakukan passing jarak jauh dan juga tendangan jarak jauh, Sherwood memang terlihat ingin lebih menyerang dan memanfaatkan kelemahan lini pertahanan Liverpool yang telah kebobolan 39 gol musim ini.

Tapi keputusan ini harus dibayar mahal. Posisi asli Sigurdsson sendiri adalah sebagai attacking midfielder yang jarang melakukan aksi bertahan seperti tekel atau intersepsi. Dalam 19 kali bermain sepanjang musim ini, Sigurdsson hanya mencatatkan 20 takel atau 1,1 tekel perlaga. Padahal, posisi poros ganda adalah posisi vital untuk menahan gempuran lini tengah Liverpool. Mempercayakan posisi ini pada pemain yang tidak memiliki kemampuan bertahan yang baik adalah kesalahan besar untuk seorang pelatih klub papan atas Premier League.

Kesalahan pilihan pemain lainnya adalah pada lini belakang. Entah karena takut Michael Dawson mengulangi kesalahan seperti pada pertandingan pertama, atau karena alasan yang lain, Sherwood memilih untuk membangkucadangkan centerback andalan Spurs ini dan memilih Younes Kaboul. Padahal, sepanjang musim Kaboul hanya bermain delapan kali dengan menjadi starter tiga kali.

Terbukti, Kaboul menyumbangkan kesalahan pada gol pertama Liverpool. Umpan Kaboul juga lah yang berhasil diintersepsi oleh Sterling, dan berbuah crossing dan sundulan Suarez yang mengenai mistar gawang.

Pemilihan pemain depan pun tak kalah aneh. Nacer Chadli yang biasanya ditempatkan di kanan malah dimainkan sebagai playmaker, sementara Erikssen yang seorang playmaker ditempatkan sebagai penyerang kiri.

Lemahnya Skema Bertahan Spurs

Tottenham memainkan Sigurdsson dan Bentaleb sebagai gelandang poros ganda di tengah. Sedangkan Nacer Chadli ditempatkan sebagai gelandang serang di belakang Roberto Soldado. Bentaleb bertugas menjaga daerah di depan kedua bek tengah, sedangkan Sigurdson mendapatkan tugas untuk mengawasi pergerakkan Coutinho.

Namun, kombinasi ini justru membuat para pemain Liverpool leluasa menguasai bola di daerah tengah lapangan. Ini karena para gelandang Tottenham memberikan ruang sangat luas bagi pemain Liverpool untuk berkreasi di tengah. Chadli cenderung berdiri terlalu ke depan sehingga sulit untuk dapat ikut berkontribusi dalam bertahan. Sementara itu, Sigurdsson terlalu sibuk dalam menjalankan peran menjaga pergerakan Coutinho.

Chalkboard defensive activity Tottenham menunjukan bagaimana minimnya aksi bertahan yang dilakukan Tottenham di wilayah tengah.

Pada Chalkboard defensive action Tottenham babak pertama di atas, terlihat bagaimana Tottenham hampir tidak pernah melakukan usaha merebut bola di luar daerah kotak penalti. Pemain-pemain Tottenham hanya melakukan clearance ketika bola sudah masuk ke kotak penalti.

Minimnya pressing Tottenham di tengah langsung mendatangkan petaka ketika pertandingan belum berjalan 2 menit. Coutinho yang sedang mengolah bola di lapangan tengah sama sekali tidak mendapatkan tekanan. Padahal, ketika itu ada 3 pemain Tottenham yang jaraknya tidak jauh dari posisi Countinho menguasai bola.Tugas ini sebenarnya sudah diserahkan kepada Sigurdsson. Tapi pemain ini tidak memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik, sehingga tidak fasih untuk menjalankan tugas ini. Marking yang dilakukannya terhadap Coutinho sering kali terlalu jauh sehingga tetap memberikan ruang pada Coutinho untuk bergerak. Termasuk apa yang terjadi pada gol pertama Liverpool.

Coutinho dapat dengan leluasa mengirimkan operan kepada Raheem Sterling, yang berhasil meneruskannya kepada Glenn Johnson. Bek kanan Liverpool ini kemudian mengirimkan bola ke tengah yang berbuah gol bunuh diri Kaboul.

Mengulangi Pola High Defensive Line

Salah satu taktik eks manajer Tottenham Andre Villas-Boas yang mampu dimanfaatkan oleh Liverpool dalam kemenangan 5-0 adalah high defensive line Spurs yang berulang kali dieksploitasi oleh kecepatan penyerang-penyerang Liverpool. Pada pertandingan semalam, Sherwood pun mengulangi hal yang sama, terutama pada babak pertama.

Kali ini Liverpool mencoba mencari kelemahan lini pertahanan Spurs ini dengan umpan panjang dari tengah lapangan. Rodgers seolah ingin mengadu lini depannya dengan lini pertahanan Spurs dalam mengejar bola. Tak heran Suarez dan Sturridge pun sering terlihat sejajar dengan barisan terakhir Spurs.

Gol kedua Liverpool, yang tercipta oleh Suarez, pun memperlihatkan bagaimana lemahnya lini pertahanan Spurs yang dipasang tinggi-tinggi. Setelah bola operan Dawson untuk Kaboul terebut Suarez, pemain asal Uruguay tersebut mampu memanfaatkan akselerasinya untuk menjebol gawang Hugo Lloris.


Pada Chalkboard defensive action Tottenham babak pertama di atas, terlihat bagaimana Tottenham hampir tidak pernah melakukan usaha merebut bola di luar daerah kotak penalti. Pemain-pemain Tottenham hanya melakukan clearance ketika bola sudah masuk ke kotak penalti.

Minimnya pressing Tottenham di tengah langsung mendatangkan petaka ketika pertandingan belum berjalan 2 menit. Coutinho yang sedang mengolah bola di lapangan tengah sama sekali tidak mendapatkan tekanan. Padahal, ketika itu ada 3 pemain Tottenham yang jaraknya tidak jauh dari posisi Countinho menguasai bola.

Tugas ini sebenarnya sudah diserahkan kepada Sigurdsson. Tapi pemain ini tidak memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik, sehingga tidak fasih untuk menjalankan tugas ini. Marking yang dilakukannya terhadap Coutinho sering kali terlalu jauh sehingga tetap memberikan ruang pada Coutinho untuk bergerak. Termasuk apa yang terjadi pada gol pertama Liverpool.

Coutinho dapat dengan leluasa mengirimkan operan kepada Raheem Sterling, yang berhasil meneruskannya kepada Glenn Johnson. Bek kanan Liverpool ini kemudian mengirimkan bola ke tengah yang berbuah gol bunuh diri Kaboul.Mengulangi Pola High Defensive Line

Salah satu taktik eks manajer Tottenham Andre Villas-Boas yang mampu dimanfaatkan oleh Liverpool dalam kemenangan 5-0 adalah high defensive line Spurs yang berulang kali dieksploitasi oleh kecepatan penyerang-penyerang Liverpool. Pada pertandingan semalam, Sherwood pun mengulangi hal yang sama, terutama pada babak pertama.

Kali ini Liverpool mencoba mencari kelemahan lini pertahanan Spurs ini dengan umpan panjang dari tengah lapangan. Rodgers seolah ingin mengadu lini depannya dengan lini pertahanan Spurs dalam mengejar bola. Tak heran Suarez dan Sturridge pun sering terlihat sejajar dengan barisan terakhir Spurs.

Gol kedua Liverpool, yang tercipta oleh Suarez, pun memperlihatkan bagaimana lemahnya lini pertahanan Spurs yang dipasang tinggi-tinggi. Setelah bola operan Dawson untuk Kaboul terebut Suarez, pemain asal Uruguay tersebut mampu memanfaatkan akselerasinya untuk menjebol gawang Hugo Lloris.



Grafik Umpan Liverpool di Area Sepertiga Lapangan Akhir – Babak Pertama

Liverpool Menyerang Sayap Spurs

Pada babak pertama, Rodgers sendiri menempatkan dua strikernya sebagai penyerang sayap, dengan Suarez yang berada di kiri, sementara Sturridge di kanan. Dengan cara ini, konsentrasi lini pertahanan Spurs pun terbagi, terutama kedua center back yang sering terpancing melebar untuk mengikuti Suarez atau Sturridge.

Misalnya saja pada menit ke-9. Suarez yang berlari pada sisi kiri Liverpool sukses menarik keluar Kaboul pada posisinya, sehingga Sturridge nyaris tak terkawal oleh Jan Vertonghen.

Selain itu, Rodgers juga mengarahkan serangannya pada sisi kiri pertahanan Spurs yang dikawal oleh Danny Rose. Caranya adalah dengan menempatkan Sturridge dan Johnson yang ditopang oleh Jordan Henderson. Dalam waktu empat menit pertama saja sudah ada dua umpan lambung yang dikirimkan ke arah Johnson.Salah satu penyebab mudahnya sisi kiri Spurs ini diserang adalah pemilihan Christian Erikssen di depan Danny Rose. Pemain yang posisi naturalnya sebagai penyerang ini tidak memberikan proteksi bagi Rose, dan malah lebih sering bergerak hingga ke tengah lapangan. Tak heran pertahanan Spurs pun terlihat ringkih.

Peran Phillipe Coutinho

Keputusan Rodgers dalam menurunkan Coutinho dan Sterling secara bersamaan bisa dibilang tepat. Sterling mampu berkali-kali melewati pemain Spurs, sementara Coutinho yang bermain lebih dalam jadi krusial dalam skema umpan dari tengah lapangan. Pada pertandingan ini, Cou yang mengambil alih peran Gerrard dalam menjadi titik awal serangan balik super cepat Liverpool.

Terlihat bagaimana Coutinho yang berulang kali turun ke bawah untuk menjemput bola. Bahkan, pada pertengahan babak pertama, Coutinho sendiri mampu mencatatkan diri sebagai top passer, top attacking pass, dan bahkan dalam ball recovery (atau mengejar bola yang akan keluar atau bola hasil intersepsi).



Poros Ganda Spurs yang Tak Bisa Mengalirkan Bola

Berdasarkan data, sebenarnya Tottenham bisa melancarkan 12 attempts pada pertandingan ini. Namun 50%-nya dilakukan dari luar kotak penalti. Salah satu penyebabnya-nya adalah karena Spurs yang kesulitan mengalirkan bola ke dalam kotak penalti. Bahkan, dari 116 umpan yang dilakukan oleh Spurs di area sepertiga lapangan akhir, hanya ada 8 yang mengarah ke dalam kotak penalti.

Ketidakmampuan Spurs ini dikarenakan kedua poros ganda, yaitu Bentaleb dan Sigurdsson, yang tak bisa mengalirkan bola ke lini depan. Bentaleb, yang seorang defensive midfielder, memang kurang bisa mengambil peran ini. Tapi, Sigurdsson yang dipasang oleh Sherwood agar Spurs lebih menyerang pun ternyata juga gagal untuk menjadi tumpuan awal serangan Spurs.



Meski mampu menciptakan 3 peluang (2 diantaranya untuk tendangan jarak jauh) terlihat dari chalkboard di atas bagaimana Sigurdsson yang tak mampu menembus lini pertahanan Liverpool. Bahkan, Sigurdsson pun hanya mencatatkan dua umpan vertikal dengan mayoritas umpannya yang mengarah ke samping dan ke belakang. Solidnya Lini Pertahanan Liverpool

Spurs pun kesulitan untuk mengalirkan bola karena Liverpool menerapkan pertahanan zonal marking yang sangat disiplin. Ketiga gelandang Liverpool membentuk segitiga yang menghadap gawang sendiri. Sedangkan di sayap, kedua penyerang sayap akan turun untuk melapisi kedua fullback.

Pola ini sebenarnya merupakan pola bertahan yang hampir selalu diterapkan Liverpool ketika bermain dengan formasi 4-3-3. Namun ternyata pola ini sukses membuat Spurs sama sekali tidak berdaya.Pada chalkboard passing Tottenham di bawah terlihat jelas bagaimana Tottenham sama sekali tidak mendekati kotak penalti Liverpool.



Poros segitiga, yang dibentuk trio gelandang Liverpool di tengah, menyebabkan aliran bola ke Nacer Chadli tertutup. Hal inilah yang kemudian menyebabkan umpan Spurs yang mengarah ke tengah selalu dapat dipatahkan.

Hal ini kemudian menjadi masalah karena lini pertahanan Liverpool pun bisa menghentikan serangan Spurs dari sayap (lihat grafik di bawah).



Kengototan Liverpool dalam merebut bola dari tangan Spurs juga terlihat dari grafik ball recovery Liverpool di bawah. The Reds kerap mengejar bola liar, hasil dari intersepsi atau kesalahan umpan, demi mengembalikan kendali permainan ke tangan Liverpool.



Pergantian Pemain SpursTertinggal 0-3, manajer Spurs langsung bergerak mencoba memperbaiki keadaan. Tidak ada pilihan lain, bermain lebih menyerang adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki coreng yang terus dibuat Liverpool ke wajah Tottenham.

Spurs, yang sudah kehilangan satu jatah pergantian pemain setelah Vertonghen cedera pada babak pertama, langsung menggunakan 2 slot substitusi terakhir yang mereka miliki. Aaron Lennon ditarik keluar digantikan Andros Townsend, dan Nabil Bentaleb digantikan Moussa Dembele.

Dembele yang memiliki tipe bermain lebih menyerang dibandingkan Bentaleb mungkin menjadi alasan dilakukannya pergantian ini. Sedangkan Townsend diharapkan dapat menggantikan peran Lennon yang dianggap gagal mengatasi John Flanagan.

Sekilas memang perubahan yang dilakukan Spurs ini membuahkan hasil. Dalam sisa 30 menit terakhir pertandingan, Spurs menghasilkan jauh lebih banyak usaha mencetak gol ke gawang Liverpool dibandingkan pada 60 menit pertama. Sayangnya, pertahanan Liverpool yang sudah lebih rapat dengan keunggulan 3-0, selalu sukses mengganggu pemain Spurs yang akan melakukan tendangan.

Hasilnya, dari 9 tendangan yang dilepaskan, hanya 1 yang sampai ke Mignolet. Sisanya tidak mengarah ke gawang atau berhasil diblok oleh para pemain bertahan Liverpool.

Kesimpulan

Dalam konfrensi pers sebelum pertandingan, Sherwood mengatakan bahwa Spurs akan tampil menyerang dan memanfaatkan kebocoran lini belakang Liverpool. Ia membuktikan ucapan itu dengan menggunakan formasi menyerang dan memasangkan Sigurdsson, Erikssesn, Chadli, dan Lennon secara bersamaan. Sherwood pun kembali menggunakan garis pertahanan yang tinggi, sebagaimana saat melawan Arsenal dan Chelsea.

Namun keputusan ini mesti dibayar mahal oleh Sherwood. Liverpool mampu mengeksploitasi high defensive line Spurs dengan menggunakan skema serangan balik super cepat yang ditopang oleh umpan-umpan dari tengah lapangan. Liverpool juga bisa memanfaatkan keringkihan barisan pertahanan Spurs, terutama dari pada sisi kiri yang dijaga Danny Rose tanpa proteksi dari Erikssen.

Selain itu, mengurangi pressing di lini tengah adalah kesalahan lain dari Tim Sherwood tadi malam. Padahal sudah bukan rahasia lagi bahwa kekuatan utama Liverpool terletak pada lini tengahnya. Membiarkan lini tengah Liverpool berkreasi adalah mimpi buruk bagi semua tim.

Dan kesalahan pilihan Sherwood pun semakin dilengkapi oleh kejelian Rodgers dalam meracik strategi. Memainkan Coutinho dan Sterling ternyata membuat serangan Liverpool lebih mengalir. Coutinho berhasil memainkan peran sebagai penyalur bola dari tengah sedangkan Sterling seringkali membuat fullback Tottenham kerepotan.

Dengan kemenangan ini, Liverpool bisa merebut puncak pimpinan klasemen sementara. The Reds kini mengantongi 71 poin, unggul dua poin dari Chelsea pada posisi kedua setelah ditundukkan Crystal Palace pada Sabtu (29/3) lalu.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TOP Skor01 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger